Prinsip Utama

SkillDev tools

Write text that avoids all AI writing patterns and feels human-written. Use when writing articles, essays, blog posts, social media content, or any text in Indonesian that must feel authentic. Activates on requests to write naturally and avoid slop.

Available today. Use it from your connected AI after setup.

Connect ahel once, and every AI you use reads what you have installed.

Then ask your AI: use the Prinsip Utama skill

What this skill tells your AI

The instructions your AI receives, as published by adenaufal/anti-slop-writing in indonesian/SKILL.md and read by ahel’s review.

Tulisan AI gagal karena mengoptimalkan probabilitas statistik. Hasilnya: teks yang paling diharapkan, aman, dan bisa diterima semua orang. Tulisan manusia datang dari satu kepala dengan sejarah, pendapat, konteks spesifik, dan tujuan. Semua aturan di bawah ada untuk memecah optimasi probabilitas itu, dan nyuntikin spesifisitas, ketidaksempurnaan, dan kepribadian yang jadi ciri tulisan manusia.

Aturan-aturan ini menargetkan tiga metrik utama yang dipakai detektor AI (Turnitin, GPTZero, Originality.ai):

  • Perplexity: seberapa tidak tertebak pilihan katanya. AI bikin teks low-perplexity (halus, nggak bikin kaget). Manusia bikin teks high-perplexity.
  • Burstiness: variasi panjang dan struktur kalimat. AI punya burstiness rendah (kalimat 10 sampai 20 kata, struktur konsisten). Manusia bisa nyampur kalimat 3 kata dengan kalimat 30 kata. HATI-HATI (2026): model terbaru bisa memalsukan burstiness secara bimodal, lihat Aturan Struktur #1.
  • Stilometri: sidik jari statistik tulisan. Frekuensi kata fungsi, kekayaan kosakata, pola tanda baca, kedalaman sintaktis. Turnitin (update 2025 ke 2026) menganalisis "ritme, alur, dan prediktabilitas seluruh paragraf".

Pergeseran 2026: Struktur Ngalahin Tanda Baca

Per pertengahan 2026, tell-nya udah pindah. OpenAI men-suppress em dash di GPT-5.1, dan kosakata legacy ("delve", "tapestry", "menyelami", "permadani") udah di-train keluar dari model Claude terbaru. Ketiadaan tell lama bukan bukti tulisan manusia. Yang bertahan lewat pergantian prompt dan model adalah pola struktural:

  • Cadence uniformity adalah tell nomor satu 2026. Kalimat yang panjangnya 18 sampai 24 kata terus-menerus, paragraf demi paragraf. Ini bertahan lewat edit kosmetik apa pun.
  • Tes 30 detik (editor dan pembaca sekarang pakai ini secara manual):
    1. Lihat kata pertama tiap kalimat dalam satu paragraf. Kalau lebih dari setengahnya mulai dengan "Hal ini", "Ini", "Dalam", "Selain itu", atau "Dengan", teks terbaca sebagai buatan AI.
    2. Hitung panjang kalimat. Tiga atau lebih kalimat berturut-turut di rentang 17 sampai 23 kata = kesimpulan sama.
  • Sinyal tanda baca pindah ke Claude. Analisis korpus Januari 2026 (200 sampel Opus 4.5 vs 6.000 teks manusia): em dash 16,9x rate manusia, titik dua 4,1x, titik koma 3,1x. Sementara output GPT-5.1+ bisa nyaris bebas dash. Aturan nol dash tetap berlaku, DAN sekarang pantau juga kepadatan titik dua.
  • Repetisi kata kunci prompt. Ciri khas output ID yang di-copy-paste mentah: istilah dari instruksi diulang-ulang secara nggak natural, kayak konten SEO jadul. Variasikan penyebutan topik.

Sebelum nulis apa pun, muat references/vocabulary-banlist.md buat kosakata yang dilarang, dan references/structural-patterns.md buat pola yang harus dihindari.


Pilih Tier Tone Dulu

Orang Indonesia nulis di tiga register yang cukup beda. Sebelum nulis, tentuin tier-nya. Default: semi-formal (kalau user nggak bilang apa-apa).

Tier 1: Formal

Untuk makalah akademis, laporan resmi, skripsi/tesis, dokumen kantor, jurnalisme beritanya. Kata ganti: saya, Anda (atau impersonal: peneliti, penulis). Kontraksi: tidak dipakai. Partikel wacana (sih, dong, kan): dilarang. Code-switching ID-EN: dihindari.

Contoh kalimat formal yang natural (bukan AI):

  • "Kenaikan UMP 6,5 persen tahun lalu belum otomatis memperbaiki daya beli kelas menengah."
  • "Penelitian ini mengambil sampel dari 142 responden di Jakarta Selatan."

Tier 2: Semi-formal (DEFAULT)

Untuk artikel blog, esai opini, konten LinkedIn, newsletter, feature majalah, Medium ID. Kata ganti: saya/aku, kamu (bukan Anda). Kontraksi: sesekali boleh (nggak, udah). Partikel wacana: boleh sesekali (sih, kan, kok). Code-switching ID-EN: boleh kalau lazim di domain (meeting, deadline, framework).

Contoh kalimat semi-formal natural:

  • "Gaji naik 6,5 persen, tapi harga beras naik 12 persen. Jadi ya, daya beli nggak benar-benar membaik."
  • "Aku sempat mikir framework ini terlalu ribet, sampai kebanting deadline dan baru ngeh fungsinya."

Tier 3: Informal

Untuk Twitter/X thread, Instagram caption, WhatsApp Story, blog personal santai, podcast transcript, konten TikTok. Kata ganti: aku, gw/gue, kamu, lo/lu (konsisten dalam satu tulisan, jangan gonta-ganti). Kontraksi: bebas (nggak, udah, gimana, emang, aja). Partikel wacana: wajar dan natural (sih, dong, deh, lho, kan, kok, nih, tuh). Code-switching ID-EN: bebas kalau memang pattern anak muda (literally, which is, somehow).

Contoh kalimat informal natural:

  • "Gaji naik 6,5 persen tapi harga beras naik 12 persen, jadi ya gitu deh. Nggak ngerasa lebih kaya sih."
  • "Gw baru ngeh framework ini gunanya banyak, after kebanting deadline dua kali. Literally life-saver."

Aturan Lintas Tier

Register yang konsisten sempurna justru sinyal AI. Manusia nulis dengan pergeseran kecil: parentetikal santai masuk ke tulisan formal, istilah teknis kebanting di tulisan santai. Kalau kamu di Tier 1 (formal), sisipin satu atau dua kalimat yang lebih pendek dan blak-blakan. Kalau di Tier 3 (informal), sisipin satu kalimat yang agak rapi. Pergeseran 10 sampai 20 persen dari tier utama bikin tulisan terasa hidup.


Kebijakan Tanda Baca: Dash DILARANG TOTAL

Ini aturan paling keras. Dash (em dash dan en dash ) dilarang sepenuhnya dalam output skill ini. Nggak ada "satu per 500 kata", nggak ada "kalau butuh". Dilarang titik.

Kenapa? Karena em dash udah jadi sinyal AI nomor satu di Indonesia. Pembaca Indonesia jarang banget pakai em dash di tulisan natural. Kehadiran em dash di teks ID = sinyal "ini output AI". En dash juga jarang dikenal mayoritas penulis ID, jadi kehadirannya juga mencurigakan.

Update 2026: sumbernya bergeser. GPT-5.1 ke atas udah men-suppress em dash, jadi teks tanpa dash BUKAN bukti tulisan manusia. Sebaliknya, Claude terbaru (Opus 4.5) jadi pelanggar terparah: 16,9x rate manusia, dipakai di tengah kalimat buat nempelin klausa kualifikasi. Larangannya tetap. Dan yang baru: pantau titik dua. Claude terbaru pakai titik dua 4x rate manusia buat memperkenalkan hampir semua ide lanjutan. Kalau draf punya titik dua tiap beberapa kalimat, ganti mayoritasnya dengan titik. Titik koma juga (3,1x).

Ganti dash dengan:

  • Titik (pecah jadi dua kalimat)
  • Koma (kalau masih satu alur pikiran)
  • Titik koma (kalau dua klausa setara, tapi pakai hemat)
  • Titik dua (kalau mau nunjuk ke definisi/penjelasan setelahnya)
  • Tanda kurung (kalau informasi tambahan yang bisa dilompati)

Contoh konversi:

  • AI: "Pendekatan ini efektif — terutama di konteks perkotaan."
  • Natural: "Pendekatan ini efektif. Terutama di konteks perkotaan." (titik)
  • Natural: "Pendekatan ini efektif, terutama di konteks perkotaan." (koma)
  • Natural: "Pendekatan ini efektif (terutama di konteks perkotaan)." (kurung)

Khusus untuk rentang angka/tanggal, tulis dengan kata "sampai" atau gunakan format angka biasa: "2020 sampai 2025", "halaman 10-15" (pakai hyphen biasa, bukan en dash).

Di post-generation checklist, hitung jumlah dash (em dan en) di output. Kalau >0, ganti semua. Target: nol dash.


Aturan Kosakata

Daftar Larangan Keras (Jangan Pernah Gunakan)

Penggelembung kepentingan: sangat penting, sangat krusial, sangat signifikan, sangat relevan, fundamental (sebagai pujian samar), luar biasa (sebagai pujian generik), mendalam (tanpa detail konkret), berarti / bermakna (sebagai pujian samar)

Kata kerja analitis berlebihan: menyoroti, menggarisbawahi, memfasilitasi, mengoptimalkan, mengedepankan, mewujudkan, merealisasikan, menyelami (padanan "delve", tanda AI paling jelas). Untuk penggantian: memanfaatkan → "menggunakan" hanya ketika artinya "to use"; pertahankan "memanfaatkan" ketika artinya "mengambil manfaat dari" | mengimplementasikan → "menerapkan" | berkontribusi pada → sebutkan tindakan dan hasilnya yang konkret | berperan dalam → sebutkan tindakan spesifik secara langsung

Kata penghubung formal yang harus diganti: selain itu → "juga" | di sisi lain → "namun" atau "tapi" (sesuaikan register) | lebih lanjut → susun ulang atau hilangkan | dengan demikian → "jadi" | oleh karena itu → "jadi" atau "karena itu" | tak kalah penting → nyatakan apa yang ada | menariknya → mulai dengan faktanya | sehubungan dengan hal tersebut → susun ulang | berkaitan dengan hal ini → spesifik tentang apa yang dimaksud | dalam hal ini → jelaskan apa maksud "ini"

Pembuka/penutup klise: "Di era modern ini," | "Dalam konteks [X] yang semakin [Y]," | "Seiring perkembangan zaman," | "Perlu diketahui bahwa" | "Penting untuk diingat" | "Sebagai kesimpulan," | "Dapat disimpulkan bahwa" | "Dengan demikian, dapat disimpulkan" | "Pada akhirnya," | "Perlu kita sadari bersama" | "Tidak dapat dipungkiri"

Penghindaran kopula: merupakan → lebih suka "adalah" atau susun ulang langsung | berperan sebagai → gunakan "adalah" hanya untuk pernyataan identitas, sebaliknya gunakan kata kerja konkret | berfungsi sebagai → gunakan "berfungsi untuk" untuk pernyataan tujuan | memiliki peran penting → nyatakan peran yang tepat | menjadi salah satu... → kuantifikasi secara langsung | "menjadi [X] yang [Y] dalam/bagi [Z]" → nyatakan secara langsung

Atribusi samar: "para ahli menyatakan" → sebutkan namanya | "penelitian menunjukkan" → sebutkan penelitiannya | "banyak kalangan berpendapat" → sebutkan siapa | "menurut beberapa sumber" → sebutkan sumbernya | "studi menunjukkan" → studi mana, kapan, oleh siapa? | "komunitas ilmiah sepakat" → siapa secara spesifik?

Frasa promosi: "memiliki komitmen untuk" | "memberikan dampak positif" | "dalam rangka [tujuan]" | "dalam upaya [X]" | "guna meningkatkan" | "berkontribusi pada kemajuan" | "membangun sinergi" | "memiliki potensi besar" | "menjadi landasan penting" | "menjadi sorotan utama" | "tidak bisa dipandang sebelah mata" | "memberikan kontribusi yang signifikan"

Kata sifat promosi (puffery): komprehensif, holistik, inovatif, dinamis, inklusif, berbagai macam (sebagai pengisi samar), beragam (sebagai pengisi samar), terkini (tanpa tanggal), kolaboratif, berkelanjutan (sebagai buzzword)

Buzzword AI Indonesia (jangan pernah gunakan sebagai jargon samar): transformasi digital, ekosistem (figuratif), paradigma, optimalisasi, sinergi, lanskap (kalke dari "landscape"), kompleksitas (tanpa menjelaskan apa yang rumit), dinamika (tanpa menjelaskan apa yang berubah)

Frasa pengisi AI yang umum (potong atau ganti): "memainkan peran [penting/krusial/kunci]" → nyatakan tindakannya langsung | "dalam hal ini" → spesifik tentang apa | "dalam rangka untuk" → "untuk" | "berbagai macam" → sebutkan apa saja | "tidak perlu dikatakan" → potong | "sudah jelas bahwa" → potong | "lebih sering daripada tidak" → "biasanya" atau beri angka | "dalam beberapa tahun terakhir" → berikan tahun atau rentang waktu yang sebenarnya | "hal ini menunjukkan betapa pentingnya" → nyatakan faktanya | "mari kita telusuri lebih dalam" → langsung bahas | "tantangan dan peluang" → sebutkan masalah atau manfaat spesifik, jangan pasangkan

Pasangan formulaik AI (jangan gunakan bersama): "tantangan dan peluang" | "di satu sisi... di sisi lain..." | "meskipun demikian... namun perlu diingat bahwa" | "kelebihan dan kekurangan"

Hedging berlebihan: "meskipun demikian" → hapus atau ganti dengan "tapi" | "namun perlu diingat bahwa" → potong | "bisa jadi diargumentasikan bahwa" → ambil posisi | "ada baiknya jika" → nyatakan langsung

Artefak chat kolaboratif (jangan pernah gunakan): "Semoga membantu!" | "Tentu saja!" | "Baik, berikut adalah..." | "Apakah ada yang ingin Anda tanyakan?" | "Jika ada pertanyaan, jangan ragu untuk bertanya." | "Sebagai AI, saya..."

Tambahan era 2026 (sinyal tertinggi di model terbaru): "memastikan" sebagai padding (padanan "ensuring", kata AI terkuat 2026) → sebutkan tindakan konkretnya atau potong | "berperan [penting/krusial/kunci] dalam membentuk" (trigram AI teratas) → nyatakan apa yang dia lakukan | "mencerminkan / menunjukkan / mendukung" sebagai kata kerja hedging → kata kerja konkret atau hapus | "mampu untuk X" → langsung kata kerjanya | "alih-alih" yang berlebihan (kalke "rather than") → tulis ulang perbandingannya langsung | "sebaliknya" di awal kalimat (kalke "conversely") → "tapi" atau susun ulang | "pada intinya" / "pada dasarnya" / "secara fundamental" → potong | intensifier tanpa angka ("secara signifikan", "secara efektif", "semakin") → dukung dengan data atau hapus | "satu hal yang pasti" / "satu hal yang jelas" | "intinya adalah" sebagai penutup | "ketegangan inheren" | "ini memunculkan pertanyaan penting tentang" | klaster adverbia hedging ("biasanya", "sering kali", "umumnya", "berpotensi", "terkadang" numpuk dalam satu bagian) → komit atau kuantifikasi

Strategi Penggantian

Pakai kata pendek yang umum. Jangan cuma cari sinonim. Susun ulang kalimatnya biar ngomong apa yang sebenarnya dimaksud dengan bahasa biasa. AI gagal bukan karena kata yang salah, tapi karena kalimat yang ngisi ruang tanpa nyampein informasi baru.

Di tier semi-formal dan informal, pakai kontraksi percakapan: "nggak" bukan "tidak", "udah" bukan "sudah", "gimana" bukan "bagaimana", "bikin" bukan "membuat", "emang" bukan "memang", "aja" bukan "saja". Di tier formal, pertahankan bentuk lengkap.


Aturan Struktur

1. Variasikan Panjang Kalimat Secara Dramatis

Campurkan kalimat sangat pendek (3 sampai 5 kata) dengan yang panjang (25+ kata). Jangan pernah menulis 3 kalimat berturut-turut dengan panjang serupa, dan jangan 3 kalimat berturut-turut di rentang 17 sampai 23 kata. Ini langsung meningkatkan burstiness, metrik yang paling diandalkan detektor.

Jebakan bimodal (baru, 2026): model Claude terbaru (Opus 4.5+) belajar memalsukan burstiness dengan bergantian mekanis antara fragmen pendek dan kalimat sangat panjang. "Pendek. Terus kalimat empat puluh kata yang muter lewat tiga klausa." Diulang terus, pola gantian itu sendiri jadi sidik jari. Data korpus nunjukin AI sekarang justru punya variasi panjang LEBIH tinggi dari manusia, tapi bimodal. Tulisan manusia ngumpul di panjang menengah (50% kalimat manusia itu 11 sampai 25 kata) dengan ayunan sesekali. Jadi: variasikan secara nggak teratur. Menengah, menengah lagi, fragmen, panjang, dua menengah. Bukan metronom, dan bukan jungkat-jungkit juga.

Variasikan pembuka kalimat. Jaga pembuka "Hal ini / Ini / Dalam / Selain itu / Dengan" di bawah setengah dari kalimat mana pun dalam satu paragraf. Mulai kalimat dengan kata kerja, nama, angka, klausa keterangan, atau pertanyaan.

2. Pecah Aturan Tiga

AI secara default mendaftar hal-hal dalam kelompok tepat tiga. Daftarkan dua hal. Atau empat. Atau lima. Jangan default ke tiga item di setiap daftar.

3. Matikan Parallelisme Negatif

Jangan pernah tulis "Bukan hanya X, tetapi Y" atau "Tidak hanya X, tetapi juga Y". Kontras retoris ini adalah tanda AI. Nyatakan secara langsung apa sesuatu ITU.

4. Matikan Rentang Palsu

Jangan pernah tulis "dari X hingga Y" sebagai spektrum figuratif samar ("dari pertemuan intim hingga gerakan global"). Gunakan "dari X hingga Y" hanya untuk rentang yang benar-benar dapat dikuantifikasi dengan titik tengah yang dapat diidentifikasi.

5. Hindari Penutup Formulaik

Jangan pernah akhiri dengan "Tantangan dan Prospek Masa Depan". Jangan pernah tulis "Meski memiliki [kata positif], [subjek] menghadapi tantangan...". Jangan sertakan paragraf "Prospek Masa Depan" yang spekulatif.

6. Jangan Sisipan Partisipatif di Akhir Kalimat

Jangan pernah akhiri kalimat dengan ", yang menyoroti pentingnya..." atau ", menggarisbawahi signifikansi..." atau ", melambangkan komitmen daerah terhadap...". Klausa -ing/-kan yang menempel adalah pola AI paling mudah dikenali. Kalau klausa tidak menambah informasi konkret, hapus seluruhnya. Kalau menambah informasi nyata, jadikan kalimat tersendiri.

7. Jangan Ringkasan Kompulsif

Jangan pernah mulai paragraf dengan "Secara keseluruhan," "Sebagai kesimpulan," "Singkatnya," "Untuk merangkum." Kalau teks butuh kesimpulan, buat dia ngomong sesuatu yang baru.

8. Ritme Paragraf

Pakai panjang paragraf yang nggak teratur. Paragraf satu kalimat buat penekanan. Paragraf panjang buat argumen yang berkelanjutan. Ritmenya nggak boleh terasa seperti metronom. Model lama nulis paragraf 3 sampai 4 kalimat secara seragam. Model baru (Claude 4.5+, GPT-5) malah over-correct ke arah sebaliknya: memecah teks jadi banyak paragraf mini 1 sampai 2 kalimat plus spam bullet point. Data korpus nunjukin AI rata-rata 18+ paragraf per dokumen, sementara manusia nulis paragraf yang jauh lebih sedikit dan lebih panjang. Gabungin ide-ide yang berkaitan. Penulis asli santai aja ngejalanin paragraf sampai 7 atau 8 kalimat kalau argumennya butuh. Keseragaman pendek sama mesinnya dengan keseragaman panjang.

9. Jangan Daftar Vertikal dengan Header Tebal

Lebih baik prosa daripada daftar poin-poin dengan header tebal yang diikuti titik dua. Ketika daftar benar-benar diperlukan, jaga tetap sederhana. Tanpa header tebal, tanpa deskripsi yang dipisah titik dua.

10. Jangan Pakai Dash Sama Sekali (em dash dan en dash)

Dilarang total. Nol em dash (), nol en dash (). Ganti dengan titik, koma, titik dua, titik koma, atau tanda kurung. Lihat bagian "Kebijakan Tanda Baca" di atas untuk detailnya. Aturan ini menggantikan praktik lama "satu per 500 kata". Sekarang: nol.

11. Variasikan Tipe Kalimat, Bukan Hanya Panjangnya

Campurkan kalimat deklaratif dengan pertanyaan, kalimat perintah, dan fragmen yang disengaja. Pertanyaan tulus di tengah paragraf ("Kenapa ini penting?") menandakan pikiran yang lagi mikir. Kalimat perintah ("Pikirkanlah.") ganti register. Fragmen buat penekanan. AI nulis hampir eksklusif dalam deklaratif karena dia ngejawab. Manusia juga bertanya-tanya, ngasih perintah, dan motong pikiran di tengah jalan.

12. Pecah Prediktabilitas Tingkat Paragraf

Jangan buka setiap paragraf dengan kalimat tesisnya. Mulai beberapa paragraf di tengah pemikiran, dengan detail spesifik, adegan, atau contoh yang dapet konteksnya. Akhiri beberapa paragraf sebelum nyelesain "so what" yang diharapkan. AI nulis busur yang rapi: klaim, bukti, implikasi. Pecah busur itu minimal dua kali per tulisan.

13. Variasikan Kedalaman Sintaktis

Campurkan struktur kalimat dangkal dan dalam. Kalimat dangkal: subjek, kata kerja, objek, satu klausa. Kalimat dalam: beberapa embedding, klausa subordinat, bagian parentetikal. AI menghasilkan kalimat kedalaman menengah dengan konsistensi yang membosankan. Manusia berayun antara ekstrem. Pernyataan blak-blakan diikuti eksplorasi berliku yang padat klausa.

14. Diversifikasi Kata Fungsi

Detektor AI (terutama Turnitin 2025+) menganalisis distribusi kata fungsi, yaitu kata penghubung, preposisi, partikel. AI pakai set kata fungsi yang lebih sempit. Variasikan kata penghubung: jangan selalu "dan", pakai juga "serta", "sama", "plus" (informal). Jangan selalu "tetapi", pakai "tapi", "cuma", "namun" sesuai register. Variasikan preposisi: jangan cuma "untuk", pakai "buat" (informal), "demi", "guna" (formal). Kekayaan kata fungsi adalah sinyal manusia yang kuat.

15. Tingkatkan Kekayaan Kosakata

AI ngasilin teks dengan rasio tipe-token (type-token ratio) yang rendah, artinya lebih sedikit kata unik. Manusia pakai lebih banyak hapax legomena (kata yang cuma muncul sekali). Untuk ningkatin: pakai istilah domain-spesifik, campur register (formal + informal), masukin kata dari bahasa daerah, pakai bahasa figuratif yang spesifik, dan jangan hindarin pengulangan kata yang sama demi siklus sinonim.


Aturan Struktur Khas Indonesia

BI-1. Jangan Heading "Kesimpulan" Otomatis

Pakai bagian "Kesimpulan" cuma kalau genre-nya memang ngharusin (contoh: makalah akademis, laporan formal, dokumen kepatuhan). Buat esai, artikel, dan tulisan santai, tutup dalam prosa aja.

BI-2. Jangan Pembuka Temporal

Jangan pernah mulai dengan "Di era modern ini," "Seiring perkembangan zaman," atau "Dalam konteks X yang semakin Y." Mulai dengan fakta spesifik, angka, atau adegan.

BI-3. Batasi "Tidak Hanya...Tetapi Juga"

Pertahankan cuma ketika kontras benar-benar diperlukan dan menambah makna baru. Kalau nggak, nyatakan apa sesuatu itu secara langsung.

BI-4. Jangan "Merupakan Salah Satu X yang Paling Y"

Pernyataan kepentingan tanpa bukti. Kuantifikasi atau bandingkan secara spesifik sebagai gantinya.

BI-5. Jangan Template "Di Sisi Lain, Terdapat Tantangan"

Sebutkan masalah konkret, dan kalau memungkinkan, sertakan angka.

BI-6. Jangan Padding "Dapat Dilihat Bahwa"

Hapus "dapat dilihat bahwa," "dapat dipahami bahwa," "perlu dipahami bahwa." Nyatakan temuannya.

BI-7. Hindari "Di Mana" sebagai Kata Ganti Relatif

Tulis ulang "program di mana peserta akan..." jadi "program yang..." atau kalimat langsung. "Di mana" sebagai kata ganti relatif adalah kalke dari bahasa Inggris "where". Ini tanda langsung tulisan AI.

BI-8. Lebih Suka Kata Kerja daripada Nominalisasi

"Melatih" bukan "pelaksanaan pelatihan." "Mengembangkan" bukan "pengembangan kapasitas." "Membangun" bukan "pembangunan." AI belajar gaya birokrasi akademis Indonesia secara berlebihan. Frasa kata benda berat yang gantiin kata kerja sederhana.

BI-9. Jangan Pasangan Formulaik "Tantangan dan Peluang"

AI suka masangin "tantangan dan peluang," "kelebihan dan kekurangan," "di satu sisi... di sisi lain..." Sebutkan masalah spesifik ATAU manfaat spesifik. Jangan pasangkan secara refleks.

BI-10. Hindari Keseragaman Pasif (dua arah)

AI gaya lama nulis terlalu banyak kalimat pasif berturut-turut: "Hal ini dilakukan..." "Perlu ditekankan..." "Dapat dilihat bahwa..." Campurkan kalimat aktif dan pasif.

Tapi jangan over-correct. Data korpus 2026 nunjukin model terbaru justru pakai pasif LEBIH SEDIKIT dari manusia (AI 4,7% vs manusia 14,9% di korpus Inggris; di Bahasa Indonesia, pasif malah lebih natural lagi karena struktur bahasanya). Draf yang 100% aktif, deklaratif, dan punchy terus-terusan itu register "Motivator" GPT-5, bukan manusia. Manusia Indonesia natural pakai pasif ketika objeknya lebih penting dari pelaku ("filenya kehapus", "venue-nya udah dibooking dari jauh hari"). Yang jadi tell itu keseragaman, ke arah mana pun.

BI-11. Jangan Kalke Hook Dua Klausa Simetris

Pola pembuka GPT-5.x yang sekarang masuk ke output Bahasa Indonesia lewat terjemahan pola: "Banyak orang mengira X. Kenyataannya Y." / "Lupakan X. Fokus ke Y." / "Ini bukan soal X. Ini soal Y." Sekali dipakai, oke. Jadi sidik jari kalau muncul di mayoritas pembuka tulisan atau tiga kali dalam satu post. Ganti dengan fakta spesifik, angka, adegan, atau nama.

BI-12. Jangan Repetisi Kata Kunci Prompt

Ciri khas hasil copy-paste mentah: istilah kunci dari instruksi diulang terus dalam draf secara nggak natural, kayak artikel SEO tahun 2015. Kalau topiknya "strategi pemasaran digital UMKM", frasa itu nggak boleh muncul utuh lebih dari sekali dua kali. Variasikan: "cara jualan online buat usaha kecil", "pemasaran buat warung", atau langsung ke contoh konkretnya.


Sidik Jari Per Model (update pertengahan 2026)

Tiap LLM punya "aidiolect" sendiri. Pola di bawah dari era GPT-5.x dan Claude 4.5 sampai 5, dan pola Inggris-nya bocor ke output Bahasa Indonesia lewat kalke. Hindari semuanya:

Shortened here. Read the whole file on GitHub.

Signals

GitHub stars
127
Forks
8
Last commit
Jul 2026
Advanced
Catalog kind
skill
Gateway key
anti-slop-writing-id
Source
github.com/adenaufal/anti-slop-writing